Diskon 20% s/d 31 Maret 2026 dengan kode kupon PADMAR26. Dapatkan karya pilihanmu sekarang!

Si Patokaan (SATB div.)

“Si Patokaan” adalah lagu daerah asal Sulawesi Utara yang liriknya merupakan bahasa Minahasa, dialek sub etnis Tonsea. Menurut Pdt. Prof. Dr. Wilhelmus Absalom Roeroe, hingga tahun 1930-an, desa Patokaan adalah rawa yang menjadi sarang nyamuk penyebab penyakit malaria. Namun, orang-orang Minawerot dan Tatelu-Laikit membuka lahan perkebunan di sana.

Di zaman pendudukan Jepang pada tahun 1942-1945, sebagian daerah rawa itu dibangun lapangan terbang untuk pesawat-pesawat tempur dan gudang-gudang logistik Jepang. Dalam bukunya yang berjudul Wajah Baru Minahasa (2009), H.B. Palar menceritakan bagaimana orang-orang Minahasa di masa pendudukan Jepang dipaksa untuk bekerja membangun lapangan terbang itu. Kekejaman ini menyebabkan banyak orang Minahasa kehilangan nyawa. Kalaupun selamat, mereka pulang ke kampung dengan wajah pucat kekuning-kuningan akibat Malaria.

Warga Patokaan yang tampak pucat dan menggigil akibat malaria ini kemudian menjadi bahan ejekan dari masyarakat Tatelu yang mereka temui. Ejekan tersebut disampaikan dalam bentuk lagu ciptaan orang Tatelu, yang kemudian dikenal luas dengan judul “Si Patokaan”.

Meskipun memiliki sejarah awal yang tragis, lagu “Si Patokaan” sering dinyanyikan dengan interpretasi makna yang lain. Lagu “Si Patokaan” sering kali diartikan sebagai nasihat seorang ibu kepada anaknya yang akan merantau. Sang ibu dengan penuh kasih sayang, mengingatkan anaknya yang akan pergi jauh untuk berhati-hati di tempat barunya. Dalam interpretasi ini, Patokaan diibaratkan sebagai seorang anak.

Pada aransemen ini, arranger menggunakan interpretasi makna nasihat seorang ibu kepada anaknya yang akan merantau. Untuk mewujudkan suasana yang sesuai dengan makna, penulis mengolah unsur-unsur musikal seperti tempo, dinamika, melodi, dan harmoni.

Arranger menggunakan melodi awal Si Patokaan sebagai intro, kemudian memodifikasi progresi chord untuk mengawali lagu dengan kesan megah. Dalam aransemen ini, arranger banyak memanfaatkan chord add2 untuk menghadirkan nuansa manis dan hangat. Pendekatan ini bertujuan menggambarkan suasana haru seorang ibu yang akan ditinggal pergi oleh anaknya.

Tekstur musik serta kelebaran range vokal dalam karya ini berkembang seiring berjalannya lagu, dengan puncak yang dicapai pada bagian klimaks. Hal tersebut dimaksudkan untuk merepresentasikan perasaan sedih yang semakin mendalam sejalan dengan semakin dekatnya waktu kepergian sang anak.

Rupiah Indonesia (Rp) - IDR
  • Rupiah Indonesia (Rp) - IDR
  • United States dollar ($) - USD

Rp60.000

Kategori: Tag:
Keranjang Belanja
Si Patokaan (SATB div.)Si Patokaan (SATB div.)
Rp60.000
Rupiah Indonesia (Rp) - IDR
  • Rupiah Indonesia (Rp) - IDR
  • United States dollar ($) - USD