Cing Ciripit (SSAA with Body Percussion, Piano opt.)Cing Ciripit (SSAA with Body Percussion, Piano opt.)
Komposer
Asti FajrianiKategori
Musik RakyatDeskripsi Karya
Cing Ciripit merupakan lagu permainan anak-anak Jawa Barat yang bertujuan untuk menentukan si penjaga (“ucing”) seperti dalam permainan hompimpa yang dimainkan sebelum memulai permainan lainnya; misalnya kucing-kucingan atau kejar kejaran. Pertama-tama, anak-anak berkumpul dalam kelompok kecil dengan posisi melingkar. Kemudian, salah seorang anak meletakkan telapak tangan di tengah lingkaran, lalu anak-anak lainnya meletakkan jari telunjuk mereka ke atas telapak tangan tersebut. Sambil bernyanyi lagu Cing Ciripit, mereka menggerakkan jari telunjuk ke atas dan ke bawah. Telapak tangan anak yang di tengah akan menutup/menjepit ketika lagu berakhir di kata “nong”. Anak yang jarinya tergenggam menjadi “ucing” (kucing/penjaga) yang terpilih untuk memulai permainan berikutnya.
Teks dalam lagu permainan yang berbahasa Sunda ini secara keseluruhan bermakna filosofis untuk mengajarkan manusia berhati-hati dalam bertindak, bersikap jujur, dan bertanggung jawab. “Cing ciripit tulang bajing kacapit” bermakna bahwa dalam menjalani kehidupan seseorang harus berhati-hati agar tidak celaka (“terjepit”) oleh keadaan buruk. “Kacapit ku bulu paré” mengingatkan manusia untuk menjaga kebaikan sebagaimana bulu paré (padi) yang dianalogikan sebagai sumber kehidupan. “Bulu paré seuseuketna” bermakna bahwa kehidupan ini terkadang keras dan menyakitkan seperti ujung padi yang tajam, sementara “Jol Pa Dalang mawa wayang, jék-jrék nong” melambangkan kepasrahan manusia yang diibaratkan sebagai wayang yang dijalankan oleh Dalang (Tuhan), sehingga kita harus ikhlas menerima hasil dari permainan.
Penampilan dibayangkan menjadi semi-teatrikal, dimana anak-anak akan betul-betul memainkan permainan Cing Ciripit sambil menyanyikan karya ini. Dimulai dengan pengulangan motif yang merupakan fragmen dari tema lagu untuk membangun atmosfer musik tradisional khas Sunda, karya dilanjutkan dengan tema pertama yang merupakan pengenalan tentang cara bermain (“Cing ciripit, satulang sabajing, saha nu kacapit jadi ucing” — cing ciripit, satu per satu, siapa yang terjepit jadi kucing). Bagian selanjutnya merupakan permainan Cing Ciripit itu sendiri, dimana anak-anak mengambil posisi bermain yakni melingkar dalam kelompok kecil, sambil menyanyikan tema lagu sebanyak tiga kali. Pada setiap pengulangan dan setiap akhir frase, tempo akan semakin cepat untuk menunjukkan intensitas pemain yang semakin berdebar dan takut terjepit. Diharapkan pada setiap ronde permainan ada anak yang jarinya tertangkap, sehingga mereka keluar dari permainan dan jumlah pemain menjadi semakin sedikit dalam setiap rondenya. Pada setiap jeda sebelum memulai pengulangan, anak-anak dapat bebas berinteraksi seperti tertawa, atau saling mengajak temannya untuk bermain, serta berhitung “hiji, dua, tilu”(satu, dua, tiga).
Dengan tema asli lagu “Cing Ciripit” yang memiliki notasi sederhana, karya ini lebih lanjut diperkaya dengan eksplorasi komposer dalam menggabungkan beberapa elemen musik Sunda dan anak-anak di dalamnya. Terdapat beberapa seruan/sahutan untuk menambah keseruan bermain, seperti “euy!” dan “seur!” serta bagian yang diharapkan dapat dinyanyikan dengan suara asli (bukan suara bernyanyi) atau suara ahak cempereng untuk menirukan suara anak-anak yang sedang bermain. Terdapat juga beberapa instruksi untuk bernyanyi tanpa nada (lebih berseru daripada bernyanyi) di setiap akhir ronde permainan. Sedikit perkusi badan juga ditambahkan untuk menambah intensitas klimaks di bagian akhir karya. Sementara itu, pengaturan tempo lebih lanjut dan jeda antar bagian di mana anak-anak bercengkrama dapat diinterpretasikan bebas oleh tiap pengaba.
Rp50.000 Harga aslinya adalah: Rp50.000.Rp45.000Harga saat ini adalah: Rp45.000.
per copy
Berlaku Lisensi Selamanya
Partitur digital • Untuk 1 paduan suara/institusi • Penggunaan konser/kompetisi
Jumlah pembelian (sesuai jumlah penampil)
-
IDR
-
USD
Deskripsi Karya
Cing Ciripit merupakan lagu permainan anak-anak Jawa Barat yang bertujuan untuk menentukan si penjaga (“ucing”) seperti dalam permainan hompimpa yang dimainkan sebelum memulai permainan lainnya; misalnya kucing-kucingan atau kejar kejaran. Pertama-tama, anak-anak berkumpul dalam kelompok kecil dengan posisi melingkar. Kemudian, salah seorang anak meletakkan telapak tangan di tengah lingkaran, lalu anak-anak lainnya meletakkan jari telunjuk mereka ke atas telapak tangan tersebut. Sambil bernyanyi lagu Cing Ciripit, mereka menggerakkan jari telunjuk ke atas dan ke bawah. Telapak tangan anak yang di tengah akan menutup/menjepit ketika lagu berakhir di kata “nong”. Anak yang jarinya tergenggam menjadi “ucing” (kucing/penjaga) yang terpilih untuk memulai permainan berikutnya.
Teks dalam lagu permainan yang berbahasa Sunda ini secara keseluruhan bermakna filosofis untuk mengajarkan manusia berhati-hati dalam bertindak, bersikap jujur, dan bertanggung jawab. “Cing ciripit tulang bajing kacapit” bermakna bahwa dalam menjalani kehidupan seseorang harus berhati-hati agar tidak celaka (“terjepit”) oleh keadaan buruk. “Kacapit ku bulu paré” mengingatkan manusia untuk menjaga kebaikan sebagaimana bulu paré (padi) yang dianalogikan sebagai sumber kehidupan. “Bulu paré seuseuketna” bermakna bahwa kehidupan ini terkadang keras dan menyakitkan seperti ujung padi yang tajam, sementara “Jol Pa Dalang mawa wayang, jék-jrék nong” melambangkan kepasrahan manusia yang diibaratkan sebagai wayang yang dijalankan oleh Dalang (Tuhan), sehingga kita harus ikhlas menerima hasil dari permainan.
Penampilan dibayangkan menjadi semi-teatrikal, dimana anak-anak akan betul-betul memainkan permainan Cing Ciripit sambil menyanyikan karya ini. Dimulai dengan pengulangan motif yang merupakan fragmen dari tema lagu untuk membangun atmosfer musik tradisional khas Sunda, karya dilanjutkan dengan tema pertama yang merupakan pengenalan tentang cara bermain (“Cing ciripit, satulang sabajing, saha nu kacapit jadi ucing” — cing ciripit, satu per satu, siapa yang terjepit jadi kucing). Bagian selanjutnya merupakan permainan Cing Ciripit itu sendiri, dimana anak-anak mengambil posisi bermain yakni melingkar dalam kelompok kecil, sambil menyanyikan tema lagu sebanyak tiga kali. Pada setiap pengulangan dan setiap akhir frase, tempo akan semakin cepat untuk menunjukkan intensitas pemain yang semakin berdebar dan takut terjepit. Diharapkan pada setiap ronde permainan ada anak yang jarinya tertangkap, sehingga mereka keluar dari permainan dan jumlah pemain menjadi semakin sedikit dalam setiap rondenya. Pada setiap jeda sebelum memulai pengulangan, anak-anak dapat bebas berinteraksi seperti tertawa, atau saling mengajak temannya untuk bermain, serta berhitung “hiji, dua, tilu”(satu, dua, tiga).
Dengan tema asli lagu “Cing Ciripit” yang memiliki notasi sederhana, karya ini lebih lanjut diperkaya dengan eksplorasi komposer dalam menggabungkan beberapa elemen musik Sunda dan anak-anak di dalamnya. Terdapat beberapa seruan/sahutan untuk menambah keseruan bermain, seperti “euy!” dan “seur!” serta bagian yang diharapkan dapat dinyanyikan dengan suara asli (bukan suara bernyanyi) atau suara ahak cempereng untuk menirukan suara anak-anak yang sedang bermain. Terdapat juga beberapa instruksi untuk bernyanyi tanpa nada (lebih berseru daripada bernyanyi) di setiap akhir ronde permainan. Sedikit perkusi badan juga ditambahkan untuk menambah intensitas klimaks di bagian akhir karya. Sementara itu, pengaturan tempo lebih lanjut dan jeda antar bagian di mana anak-anak bercengkrama dapat diinterpretasikan bebas oleh tiap pengaba.



